Monumen Husein Sastranegara

Monumen Husein Sastranegara

Monumen Husein Sastranegara Bandung

Monumen adalah sebuah bangunan yang mempunyai nilai sejarah yang menggambarkan perjuangan-perjuangan yang telah terjadi pada masa tersebut, begitupula dengan Monumen Husein Sastranegara. Monument ini didirikan sebagai penghormatan kepada seorang pahlawan nasional bernama Husein Sastranegara yang telah berjuang mempertahankan Negara kesatuan Republik Indonesia dari revolusi penjajahan Jepang, Belanda bersama dengan sekutunya.Monumen Husein berada di Jln. Pajajaran Desa/Kelurahan Husein Sastranegara Kecamatan Cicendo Kota Bandung, Jawa Barat 40174 – Indonesia. Selain itu nama beliau juga di abadikan dalam sebuah bandara internasional di Bandung yaitu Bandara Husein Sastra Negara karena dia merupakan pelopor yang telah mendorong pembangunan di bidang penerbangan nasional.

Kehidupan Husein Sastranegara

Berdasarkan catatan Yayasan Wangi Demang Sastranegara bahwa Hussein Sastranegara lahir di Cilaku Cianjur pada tanggal 20 Januari 1919. Beliau adalah anak kedelapan dari 14 orang bersaudara. Husein adalah putra dari Rd. Demang Ishak Sastranegara. Ayahnya adalah seorang Pangreh Peraja pada jaman Belanda selain itu dia pernah menjabat sebagai wedana Ujung Berung selama 17 bulan. Jika ditinjau dari silsilahnya, Husein sastra Negara adalah keturunan seorang ningrat.

Pada mulanya Husein sekolah di Europese Legere School (ELS) di Bandung. sekolah ini setara dengan Sekolah Dasar (SD) pada masa sekarang. Setelah lulus di sekolah tersebut, Husein melanjutkan pendidikannya di Hoger Burger School (HBS), Bandung. Akan tetapi, karena banyak kendala akhirnya husen pindah ke HBS yang berada di Jakarta. Pada tahun 1939, Husen lulus dan melanjutkan pendidikannya di perguruan Tinggi Technische Hoge School di bandung yang sekarang menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB).

Perjalanan Huseein di bangku kuliah tidak semulus yang beliau harapkan. Pada tahun 1939 terjadi perang dunia kedua yang mana belanda telah menduduki jerman. Pada saat itu pemerintah Hindia Belanda segera menarik simpati rakyat Indonesia khususnya kepada pemuda Indonesia dengan memberikan kesempatan untuk berkarir di bidang penerbangan militer. Kesempatan tersebut tidak disia-siakan oleh Husein. Dia rela meninggalkan bangku kuliahnya dan segera mendaftar ke sekolah Militare Luchvaart School di Kalijati Subang.

Pada Tahun 1939 ada penggabungan sekolah Militare Luchvaart School dengan Pengintai di Lapangan Andir Bandung. ada 10 orang pribumi yang mendaftar termasuk Hussein dan hanya 5 orang yang lulus dan mendapatkan ijin untuk penerbangan yaitu Husein Sastranegara, Ignatius Adisutjipto, Sambodja Hurip, Sulistiyo dan Sujono.

Dari hasil sekolah ini kembali Hussein mendapatkan kegagalan. Dia hanya mendapatkan Kleine Militaire Brevet atau lisensi menerbangkan pesawat bermesin tunggal bersama dengan dua orang rekannya yaitu Sujono dan Sulstyo. Sedangkan dua orang rekannya yaitu Agustnus Adsutjipto dan Sambudjo Hurip mendapatkan Groote Militaire Brevet.

Karir Hussein Sastranegara

Berawal dari kegagalan sekolah penerbangan di Militare Luchvaart School yang hanya mendapatkan yang hanya mendapatkan lisensi penerbangan pesawat bermesin tunggal, akhirnya Husein mengalihkan karirnya ke kepolisian. Pada tahun 1941 Husein mulai memasuki pendidikan Sekolah Inspektur Polisi di Sukabumi. Sementara itu, pasukan Jepang dalam perang dunia ke II telah mengambil bagian dan mulai melakukan serangan-serangan ke asia tenggara dan akhirnya berhasil menduduki Indonesia.

Seiring dengan desakan dan kebutuhan jepang pada saat itu, akhirnya Husein diangkat menjadi Inspektur Polisi di Sukabumi meskipun belum lulus dari pendidikan militernya. Beberapa kali perpindahan yang dilakukan kepadanya di antaranya dipindahkan ke Cianjur beliau menjabat sebagai Kepala Polisi di Sukanagara-Cianjur, hingga menjelang proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ditunjuk sebagai pejuang dan kusuma bangsa. Dengan kejadian pengeboman kota Hirosima dan Nagasaki akhirnya jepang menyerah kepada sekutu dan Hussein bergabung dengan Barisan Keamanan Rakyat (BKR) di daerah Bogor. Beliau ditunjuk sebagai salah satu komandan pada divisi yang dibentuk oleh Didi Kartasasmita. Tidak lama kemudian Husein mengundurkan diri akibat pertentangan dan banyak berselisih dengan atasannya. Setelah itu, akhurnya ia memutuskan untuk bergabung dengan kesatuan BKR Bandung dan menempati posisi bagian Resimen Kuda yang belum terorganisir.

Pada tahun 1945 Sekitar bulan September – Oktober, Husein dipanggil oleh pimpinan BKR Penerbangan Suryadi Suryadarma. Panggilan itu berkaitan dengan kebutuhan untuk mengurus Lapangan Udara Andir (LANUD Husein Sastranegara) yang baru saja berhasil direbut oleh para pejuang Republik Indonesia. Namun tugas tersebut belum sempat dilaksanakan. Karena baru melapor sudah beredar kabar bahwa Lapangan Udara Andir telah berhasil direbut kembali oleh tentara Jepang dan pimpinan di ambil alih oleh Inggris melalui jepang. Dan bandung pun ditinggalkan oleh para pejuang RI termasuk Hussein dan Hijrah ke Ibu Kota perjuangan yaitu Yogyakarta, dan disana Husein bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan ditempatkan di divisi bagian penerbangan. Disana, ia mulai dibina dalam menyusun pertahanan kekuatan udara. Tenaga penerbang yang dibina di Yogyakarta ini berasal dari berbagai kalangan mulai dari yang memiliki brevet sampai kepada orang yang belum pernah terbang sama sekali. Mereka hanya bermodalkan keberanian dan jiwa pantang menyerah dalam mempertahankan tanah air tercinta.

Pada tanggal 9 April 1946 Tentara Keamanan Rakyat (TKR) divisi Penerbanagan diubah menjadi Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). setelah selesai mengikuti pendidikan Penerbangan Lanjutan di Yogyakarta, Husen langsung mendapatkan tugas untuk menjadi instruktur di sekolah penerbangan tersebut dan merangkap sebagai perwira operasi AURI.

Pada tahun 1945 – 1946 AURI belum mulai melakukan operasi penyerangan-penyerangan udara karena masih mengumpulkan materil-materil pesawat peninggalan jepang. Konsolidasi terus dilakukan melalui udara dengan cara menggunakan pangkalan-pangkalan udara yang masih dikuasai RI. Husein sering mencoba dan menggunakan pesawat-pesawat rongsok peninggalan jepang tersebut.
Husein sejak bergabung dengan AURI sering melakukan penerbangan formasi di antaranya:

  1. Tanggal 21 mei 1946 husein melakukan penerbangan formasi dari lapangan udara maguwo (Yogyakarta) hingga lapangan udara Gorda (Serang).
  2. Tanggal 10 juni 1946 melakukan penerbangan formasi lima buah pesawat curen dari Yogyakarta ke Cibeureum tasikmalaya dalam acara peresmian pembukaan lapangan terbang.
  3. Tanggal 23 juli 1946 melakukan penerbangan ke arah barat sampai ke lapangan Gorda Banten menggunakan pesawat pembom diponegoro 1 danpernah terbang juga dari Yogyakarta ke maospati.
  4. Tanggal 13 september 1946 husen menerbangkan pesawat curen dalam rangka penaburan bunga dalam upacara pemakaman Tarsono Rujito di Salatiga.

Akhir Hayat Husein Sastranegara

Dalam berbagai rangkaian penerbangan tepatnya pada bulan September 1946, Husein mendapatkan tugas untuk mengangkut perdana menteri Republik Indonesia yaitu Sutan Syahril. Untuk mengangkut perdana tersebut beliau harus melakukan flight test untuk kesiapan jiwa raga serta mental karena yang digunakan adalah pesawat rongsok peninggalan jepang dan tidak layak terbang. Pada saat pengetesan pesawat, Husein menggunakan pesawat Cukiu. Namun naasnya pada saat terbang, pesawat cukiu mengalami kerusakan mesin sehingga pesawat tersebut jatuh di Gowongan Lor Yogyakarta dan menewaskan husein sastranegarbeliau tewas bersama juru tekniknya bernama Rukidi.

Husein meninggal dalam usia 27 tahun dan jasadnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki Yogyakarta. Husein menggilkan seorang istri yang bernama Ny. Koriyati Mangkuratmaja dengan tiga putera yang masih balita. Dengan duka yang sangat mendalam seorang Husein yang begitu gigih dalam membantu mempertahankan kemerdekaan harus pulang dalam flight test tersebut. Sebagai penghargaan atas jasa-jasa beliau yang telah mengabdikan dirinya kepada Negara maka Negara menaikan pangkat beliau dari Mayor Udara menjadi Komodor udara (Anumerta) yang sederajat dengan colonel udara sekarang. Kemudian dari penghargaan atas jabatan sebagai instruktur di sekolah penerbangan Yogyakarta yang merangkap perwira Negara memberikan penghargaan Bintang Garuda, Bintang Satyalencana Perang Kemerdekaan RI, Piagam Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Perang RI Tahun 1957.

Selain itu, dari jasa-jasa dan nilai kepahlawanan Husein, sejak tanggal 17 Agustus 1952 berdasarkan Keputusan Kasau No. 76 Tahun 1952 nama Husein Sastranegara diabadikan sebagai nama lapangan udara di Bandung sebagai pengganti Pangkalan Udara Andir Bandung. Husein di anggap sebagai pahlawan nasional yang telah mempelopori dan juga sebagai perintis pembangunan di bidang penerbangan nasional. Kemudian sebagai bentuk penghargaan kepadanya, maka dibangun juga sebuah monumen yang diberi nama Monumen Husein Sastranegara.

Keterangan: Tempat wisata di Bandung, Wisata Sejarah, Monumen Husein Sastranegara Bandung.

Tempat Wisata Menarik:
Kampung Gajah Wonderland
Transtudio Bandung

Informasi Akomodasi:
Hotel Murah di Bandung
Hotel di Lembang
Villa di Lembang